Halo semua nya, dimana pun kalian berada, dan membaca artikel ini. Saya harap kalian sehat semua serta mendapatkan manfaat dari artikel yang akan kalian baca ini.
Disini saya kembali dengan keresahan saya, keresahan yang kemudian memunculkan pemikiran baru (bagi saya pribadi). Sebuah hipotesis, dugaan dan spekulasi. Selalu datang bagi mereka yang berfikir, memikirkan sesuatu secara mendalam sampai pada esensi nya.
Artikel ini akan membahas tentang ketidakpastian dalam kehidupan manusia. Dalam hidup tentu kita menginginkan hal-hal baik terjadi dalam hidup kita. Semua terjadi begitu cepat, begitu harmonis. Sampai akhirnya muncul kesangsian yang menganggu hati dan jiwa kita. Keraguan mengenai esensi segala hal. Yang saya bahas disini adalah mengenai "Ada". Apa itu Ada? Menurut saya definisi Ada adalah sesuatu yang tampak, realita, material yang bisa kita rasakan melalui panca indera kita, yaitu mata, telinga dan lainnya. Semuanya begitu nyata, bisa kita sentuh dan rasakan. Dalam ilmu filsafat ini disebut dengan Ontologi, dalam bahasa Yunani ontos = Ada dan logi = ilmu, dapat disimpulkan Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang "Ada" atau eksistensi suatu hal. Ngomong-ngomong soal panca indera, panca indera kita terkadang salah bukan? Pernahkah kalian salah dengar, salah lihat atau salah cium bau. Ya, itulah saat indera kita salah. Lantas bagaimana kalau selama ini indera kita selalu salah? Bagaimana kalau selama ini segalanya tidak nyata? Segala yang kita rasakan, materialistik, kenyataan, dan realita adalah kesalahan dari panca indera kita.
Hal ini berawal saat saya berniat tidur di, maka sebelum tidur, saya pun merapikan kasur saya terlebih dahulu, bantalnya, sprei nya, semuanya. Kegiatan merapikan kasur itu terasa begitu nyata, sampai akhirnya saya terbangun dan sadar bahwa kegiatan saya merapikan kasur itu hanyalah mimpi? Saya sudah tidur satu jam yang lalu dan berarti saya tak pernah merapikan kasur. Padahal saya begitu merasakan kegiatan tersebut, tapi fakta nya saya hanya bermimpi.
Dari cerita saya tadi, yang menjadi problem untuk saya adalah, kalau saya bisa merasakan mimpi itu serasa nyata, bahkan percaya mimpi itu nyata. Bagaimana saya bisa percaya bahwa semua yang sedang berlangsung sekarang itu nyata dan bukan mimpi? Bagaimana anda bisa percaya kalau kegiatan anda sekarang itu nyata? Bagaimana kita bisa percaya kalau indera kita tidak salah? Kita bisa saja merasakan dengan jelas kalau sekarang sedang bekerja, makan ataupun menghabiskan hari bersama keluarga kita tercinta, menikmati setiap momen dalam kehidupan, dan mendapat makna di balik semua nya. Namun, kita juga harus berfikir apakah semua nya benar-benar terjadi, atau hanya ilusi hasil kesalahan panca indera? Atau semua nya hanyalah mimpi? Pernahkah berfikir begitu? Jika belum, maka sekarang lah waktu nya untuk mulai berfikir demikian.
Panca indera bisa jadi salah, apa yang sedang terjadi bisa saja hanya ilusi semata yang terjadi karena kesalahan indera tersebut. Bisa jadi semua realita dan kenyataan sekarang ini tidak nyata, hanya hasil dari kesalahan indera kita. Bahkan teman, dan keluarga kita pun tidak nyata, bangunan dan segala bentuk alam, semuanya tidak nyata, kita bekerja, kita menjalani hidup, kita bersenang-senang, bahkan saya yang menulis artikel ini bisa jadi tidak nyata, perasaan indrawi kita seperti rasa cinta, rasa sedih dan sayang semua nya bisa jadi ilusi dan tidak nyata. Semua hanya ilusi hasil dari kesalahan panca indera kita. Bahkan bisa saja kalau saya yang sedang mengetik artikel ini hanya ilusi ataupun mimpi, laptop ini, internet ini, semua nya ilusi. Bahkan bagaimana saya bisa percaya kalau kalian yang membaca artikel ini nyata dan bukan ilusi? Jika begitu artinya kita tidak pernah hidup, kita hanya bermain-main dengan ilusi. Lalu kalau kita tak pernah hidup, lalu dimana kehidupan sebenarnya? Apa yang sebenarnya "Ada" itu? Jika segala nya karena kesalahan indrawi kita, maka dimanakah kebenarannya? Apa hakikat nya? Semua itu pantas di pertanyaan.
Lantas kalau semua nya hanya ilusi semata dan tidak nyata, maka dunia bagaikan ruang kosong dan hampa. Kemudian, kalau seluruh esensi hidup ini adalah ilusi, apakah diri saya sendiri adalah bagian dari ilusi? Apakah diri saya sendiri tidak nyata?
Jawabannya tidak. Saya bukanlah ilusi ataupun hasil kesalahan panca indera. Saya benar-benar ada, saya benar-benar realita. Hanya saya lah realita yang benar, dan absolut. Saya ada, karena saya berfikir, karena saya berfikir maka saya ada, karena saya lah yang mengalami keraguan ini dalam pikiran saya. Karena pada dasarnya pikiran dan rasio adalah sesuatu yang tidak tersentuh panca indera, rasio dan pikiran tidak terpengaruh oleh panca indera, maka pikiran benar-benar nyata dan bukan ilusi, pikiran adalah wujud dari eksistensi, pikiran lah yang sadar akan kesalahan panca indera, maka pikiran lah satu-satunya realitas yang nyata. Dengan kata lain, saya percaya bahwa saya Ada.
Saya bukanlah satu-satunya yang berfikir demikian, Rene Descartes sang bapak filsafat modern pun merasakan demikian pada abad ke-16. Dia berpendapat bahwa seluruh diri dan pikirannya adalah nyata, dia menyebutnya cogito, sedangkan segala sesuatu yang selain dirinya patut dipertanyakan eksistensinya. Dalam salah satu kutipannya dia menyebutkan, "Aku ada, karena aku berfikir." Dengan begitu Descartes percaya pikiran dan rasio lah satu-satunya yang benar dan nyata, karena berada diluar pengaruh panca indera.
Saya ada, saya nyata karena saya berfikir. Dan pikiran saya adalah bukti eksistensi yang sebenarnya, sebuah realitas absolut. Sedangkan hal-hal yang diluar "saya" adalah sebuah ketidakpastian. Saya berfikir maka saya nyata, sedangkan jika orang lain berfikir belum tentu nyata, bahkan hidup ini, hidup ini adalah ketidakpastian, kita tak pernah tahu apakah kita benar-benar hidup saat ini. Semua hal tentang dunia dan kehidupan terasa semu dan tidak pasti. segala sesuatu terasa begitu meragukan.
Saya bisa memikirkan ini karena ada perasaan ragu-ragu dalam pikiran saya, dan berniat mengetahui sampai ke dasar hakikat nya. Karena hidup adalah ketidakpastian, maka ketidakpastian itu pantas untuk di cari tahu kebenaran nya. Seorang ilmuwan akan mencari tahu dengan penelitian, observasi dan eksperimen. Seorang filosof akan mencari tahu dengan logika sampai ke akarnya. Dan seorang pemuka agama tidak akan mencari tahu, karena menurutnya semua ini kuasa Tuhan.
Sekian.
Harry Wijaya
2019.
2019.



0 komentar:
Posting Komentar